Rapid Prototyping Machine “Doraemon” Asal Amerika Serikat

KABAR baik bagi para perancang 3D, manufaktur, desainer produk, seniman, bahkan praktisi kedokteran sekalipun. Doraemon, yang bisa mengeluarkan semua benda yang diinginkan dalam sekejap itu, sudah setahun terakhir ini bermukim di kampus Politeknik Manufaktur Negeri Bandung (Polman) bilangan Kanayakan Dago Bandung Utara.

Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru membayangkan akan bertemu dengan sosok kucing gembul pelahap dorayaki teman Nobita itu. Doraemon yang satu ini sangat pendiam dan hanya makan plastik ABS berbentuk seperti spaghetti panjang. Tidak seperti Nobita si pemalas yang hanya tinggal merengek, Doraemon yang satu ini hanya bisa menerima perintah melalui bahasa program komputer Load Catalyst. Ajaibnya lagi, makanan yang dilahap Doraemon ini, akan “dimuntahkan” dalam semua bentuk yang kita inginkan.

Doraemon asal Amerika Serikat, ini bernama Rapid Prototyping Machine, teknologi terbaru dari 3D printing. Rapid prototyping merupakan salah satu teknologi terbaru manufaktur dengan teknik proses penambahan (additive/subtractive) layer untuk memproduksi model fisik konsep sebagai produk awal dari suatu rancangan.

Secara umum, cara kerjanya tak jauh berbeda dengan printer yang biasa kita pakai untuk nge-print makalah tugas dosen-dosen killer di kampus atau nge-print foto gebetan asal fakultas tetangga. Bedanya, hasil print yang keluar bukan dalam bentuk lembaran kertas HVS atau inkjet photo paper, tetapi dalam bentuk prototype tiga dimensi.

Proses pengerjaan terdiri dari beberapa langkah. Pertama, merancang bentukan tiga dimensi atau pemodelan solid menggunakan software AutoCad atau Autodesk Mechanic Manager 3D atau juga Pro/Engineer untuk rancangan yang lebih rumit. Setelah itu, export model yang kawan Kampus sudah buat ke software Load catalyst-software bawaan mesin. Di software ini, ada beberapa langkah mudah yang harus kawan Kampus kerjakan untuk memilih orientasi model. Di software ini pula akan diberitahu berapa panjang bahan spaghetti yang dibutuhkan serta estimasi waktu yang dibutuhkan ‘Doraemon’ berkulit hitam putih ini untuk membuat model yang kita rancang.

Semudah menekan tombol enter, maka kantung ajaib akan bekerja secara perlahan membentuk model yang telah kita rancang lapis demi lapis. Satu lapisannya mempunyai ketebalan sekira 0,245 mm. Tunggu beberapa jam dan kamu pun akan tersenyum kegirangan melihat prototype yang sebelumnya hanya bisa dilihat di layar monitor kini bisa diraba secara utuh oleh jemari.

Revolusi pembuatan “prototype”

Di tataran lembaga pendidikan, saat ini baru Polman yang memiliki Dimension, merek Doraemon impor seharga Rp 800 juta dari Stratasys Inc. Amerika Serikat ini. Menurut Ayi Ruswandi Dipl. Ing. HTL, MT –koordinator pengembangan program rekayasa dan penelitian Polman– hadirnya mesin rapid prototyping bagaikan sebuah revolusi dalam proses prototyping.

“Mahasiswa, dosen serta para peneliti di sini dahulu mengandalkan keterampilan tangan untuk membuat prototype suatu desain berbahan styrofoam atau kayu. Itu pun waktunya bisa berminggu-minggu dan terkadang tidak akurat,” ujar Ayi.

Lulusan diploma teknik Swiss ini menambahkan, program yang ada di mesin ini bisa membuat dimensi asimetris yang sangat sulit dibuat oleh tangan ataupun mesin pembuat prototype generasi sebelumnya yang mengandalkan proses bor dan bubut.

Di negeri asalnya, teknologi ini tidak semata hanya digunakan di industri manufaktur, namun merambah pula ke dunia kedokteran. Sebagai contoh, sekelompok mahasiswa teknik di Boston pernah bekerja sama dengan tim dokter yang menangani pasien dengan kerusakan tulang belakang. Setelah tulang punggung pasien dipindai menggunakan CT-Scan, citra yang dibentuk didesain ulang di program Autodesk Mechanic Manager. Citra tiga dimensi yang terbentuk kemudian dibaca oleh mesin. Dalam hitungan jam, mesin kemudian membentuk prototype tulang belakang si pasien tadi persis menyerupai aslinya.

Dunia seni terutama desain produk, juga dapat memanfaatkan secara maksimal teknologi ini. Masih di negeri Paman Sam, kini berkembang pula apa yang dinamakan cyber sculpture, patung abstrak yang telah didesain menggunakan AutoCad kemudian dibuat prototype. Si seniman dapat dengan cepat mengevaluasi hasil karyanya.

Menurut Ayi, keuntungan teknologi ini terletak pada efisiensi waktu dan keakuratan prototype. Sehingga waktu si desainer dapat dimanfaatkan untuk riset dan inovasi yang lebih mendalam. Walaupun begitu, Ayi berpesan, “Biarpun praktis, tapi jangan harap semua dapat dikerjakan secara instan.”***

Ditulis dalam IPTEK. Leave a Comment »

AIBO ke Indonesia

Untuk pertama kalinya, AIBO (tipe ERS-7) si robot anjing muncul di depan publik. Gerak-gerik, wataknya juga diprogram sedemikian rupa bagaikan seekor anjing hidup. Berbeda dengan ASIMO maupun robot-robot pada umumnya. Aibo mempunyai kemampuan melakukan gerak dan reaksi dari dirinya sendiri. Dengan adanya kemampuan ini, AIBO seolah-olah memiliki insting dan kemauan seperti layaknya seekor anjing. Apabila ‘merasa’ tidak senang, ia bisa ngambek, tidak mau mematuhi perintah si pemilik atau operatornya (orang yang memainkannya). Padahal, robot-robot lainnya selalu ‘patuh’ melakukan apa yang diperintahkan oleh manusia (karena itulah diberi nama “robot”).

Kata AIBO, yang selain merupakan singkatan dari Artificial Intelligence Robot, (kata Aibo dalam bahasa Jepang berarti ‘buddy’ atau sahabat/konco). Dipilihnya bentuk anjing, mungkin karena “Dog is a man’s best friend”, bila dibandingkan dengan binatang peliharaan yang lainnya.
Keunggulan robot ini, antara lain, otomatis mengisi baterainya (re-charge) sendiri apabila baterainya memang sudah akan habis. Bahkan dia bisa bermain sendiri tanpa disuruh pemiliknya. Dengan begitu, tentu tidak repot ‘memelihara’ AIBO, bukan? Sepertinya tidak juga.
Menurut pengakuan Bapak Fauzi dari SONY Center Jakarta, pemilik harus tetap dapat menjaga ‘perasaan’ AIBO karena anjing buatan ini bisa juga sedih bahkan marah, terlihat dari lampu indikator pengganti mata. Kalau telah melakukan sebuah perintah dengan baik, dia harus dipuji (dengan cara mengelus-elus kepala atau badannya seperti anjing betulan) supaya ia tahu apa yang dilakukannya sudah betul. (Kadang ia akan membalas dengan menggoyangkan buntutnya!).

Pada umumnya AIBO yang dijual di pasaran adalah AIBO yang ‘dewasa’ dan sudah ‘pintar’, sehingga tidak perlu diajari lagi. Kita hanya perlu meng-input suara kita sebagai set-up awal untuk mengenali suara pemiliknya. Lalu, bagaimana kalau pemiliknya satu keluarga? Tenang saja, AIBO ini memiliki kapasitas memori yang cukup sehingga suara sekeluarga, bisa di-input dan dikenali oleh AIBO.

Nah, bagi mereka yang ingin lebih merasakan suka-duka sebagai pemilik anjing, dapat me-reset AIBO menjadi anjing kecil, sehingga seluruh perintah yang dapat dilakukannya (sebagai Aibo dewasa) harus diajarkan dari awal. Nah proses mengajari AIBO itulah mirip cara mengajari seekor anjing. Jangan pakai kalimat yang panjang. Ini terlihat pada saat berlangsung peragaan di sebuah mal perbelanjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Apabila kita memerintah, “AIBO c’mon, let’s dance!”, AIBO malah diam saja. Tetapi ketika diperintah “Dance!”, barulah ia akan bergoyang-goyang alias dancing ala AIBO. Aibo juga bisa memberi salam, bermain bola, mengambilkan bola, dll.

Menurut Bapak Fauzi, ada 3 hal yang sangat disukai AIBO, yaitu tulang mainan, bola mainan dan station pool-nya yang ibarat ‘kandang’nya dan tempat dia re-charging (baterainya diisi kembali).

Sebanyak 2 ekor Aibo didatangkan dari Inggris sebagai upaya dari pihak Sony Center memperkenalkan teknologi terbaru Sony kepada masyarakat sebelum melakukan penjualan. Masyarakat Indonesia mulai saat ini akan mendapat kesempatan mendapat info-info teknologi terbaru secara lebih cepat dan tidak ketinggalan seperti selama ini. Konon, AIBO ini sudah sampai di Singapura. Mungkin tidak lama lagi akan makin banyak pemilik AIBO di Indonesia. Dan Aibo mungkin saja berbentuk hewan peliharaan lainnya seperti kucing, dll.

Aibo robot berbentuk anjing ini berukuran 180 (lebar) x 278 (tinggi) dan 319 (panjang) mm, beratnya 1,65 kg (termasuk baterai dan kartu memorinya). Aibo ‘mampu’ melaksanakan berbagai perintah dan melakukan macam-macam gerak berat adanya ‘artificial intelligence’ yang terpasang di dalamnya, termasuk memory card, wireless LAN card, dll. Satu perangkat Aibo mencakup ’seekor’ Aibo (putih atau hitam), energy station (‘rumah’ sekaligus tempat pengisian baterainya), baterai, pink ball (bola warna pink), sejumlah kartu pengoperasiannya, serta buku petunjuk.

Berkat wireless technology (teknologi nirkabel), Aibo dapat berkomunikasi dengan alat-alat elektronik lainnya, terhubung secara remote dengan komputer melalui internet, atau dengan alat-alat mobile lainnya untuk mendapatkan penerapan kemampuan-kemampuan khusus lainnya. Aibo bahkan dapat diperintahkan dari jauh untuk mengambil foto bila di rumah anda ada ‘tamu yang tak dikehendaki’.

Aibo merupakan hasil produk perusahaan SONY.

Ditulis dalam IPTEK. Leave a Comment »